Wali Bajingan Vs Kepompong Sindentosca

2 Desember 2008 at 3:39 PM 2 komentar

10 tahun sudah negara ini menjadi bangsa yang demokratis, kebebasan telah dirasakan seantero indonesia, baik kebebasab berekspresi, berkarya, berpolitik, pers, berpendapat dll.

tetapi yang menjadi wacana disini ialah bahwa kebebasan tersebut tidak harus bebas sebebas-bebasnya, melainkan bebas dengan batas, yang mana bebas dalam ruang lingkup yang sudah ditetapkan secara norma, agama dan hukum yang berlaku di Indonesia, jangan sampai bebas yang melampaui batas.

seperti halnya kebebasan bermusik sekarang ini, bebas menulis lirik lagu yang disuguhkan kepada masyarakat secara luas. kebebasan ini sudah disalah artikan bagi sebagian orang (dalam hal ini musisi muda) yang mengatas namakan bebas berekspresi dalam jiwa yang ditelurkan lewat lagu.

seperti halnya lirik lagu WALI yang berjudul emang dasar, yang mana dalam lirik lagu tersebut mengandung kata-kata yang tidak pantas, katrok, ndeso dan gak berpendidikan yaitu kata “bajingan”. memang sesuatu yang fenomenal akan menjadi roket pendorong popularitas menuju dunia entertainment. tetapi seharusnya yang perlu digaris bawahi ialah berkarya, populer secara positif tidak dengan cara kampungan seperti itu.

memang saya akui lagu WALI sangat populer disini, bahkan lagu dengan judul emang dasar dijadikan idola penyanyi dangdut kampung, karna lagunya yang easy listening. tetapi yang saya sesalkan ialah lagu tersebut sudah meracuni moral anak kecil, dimana saya sering mendengar banyak anak kecil menyanyikan lagu tersebut. bahkan anak yang berusia dibawah 5 tahun bisa mengucapkan kata ‘BAJINGAN’.

berbeda halnya dengan band indie SINDENTOSCA yang berjudul KEPOMPONG yang lebih ramah ditelinga masyarakat luas, baik anak-anak, remaja hingga orang tua sekalipun. walaupun kedua Band ini sama-sama mengusung nama hewan pada lirik lagunya, namun makna isi lagu yang disampaikan oleh pendengar adalah rasa persahabatan yang apabila dipupuk secara harmonis akan menjadi kupu-kupu. sesuatu yang indah kan??. sebaliknya pada WALI berisikan kemarahan dan kedengkian terhadap seseorang.

walau konsep band ini mempunyai alur yang berbeda, tetapi seharusnya WALI harus menggunakan kata-kata yang sopan, hal ini terbukti pada video klip mreka yang disensor oleh KPI. setidaknya ini bisa memberikan pelajaran bagi WALI maupun band-band lain untuk menggunakan tata bahasa yang sopan baik dan benar.

sepertinya WALI harus belajar yang banyak kepada RATU dan HELLO BAND dalam menulis lirik lagu. walau lagu LELAKI BUAYA DARAT pada RATU dan ULAR BERBISA pada HELLO BAND sama-sama mengandung kebencian tetapi lirik yang ditanamkan masih dalam batas wajar, meskipun sama-sama mengkambing hitamkan BUAYA dan ULAR BERBISA.

lantas siapa yang patut dipersalahkan????
penulis lirik lagu atau para pendengarnya…

yang jelas bukan para binatang yang disabotase oleh mahkluk paling sempurna dibumi ini..
EMANG DASAR MANUSIA ‘TIIIT’..!!!!.

Entry filed under: Selayang Pandang. Tags: .

SEPATU PANTOPEL KELING EKSLUSIVE NAV karaoke NADZAR JONTOR GONDES

2 Komentar Add your own

  • 1. Nagaswara  |  8 Februari 2012 pukul 5:46 AM

    Sekarang Grup Band Wali kalau membuat lagu sekarang sudah lebih sopan dan memiliki nilai positif daripada lagu Emang Dasar.

  • 2. Wahyu Cimon.Ce  |  5 Maret 2012 pukul 3:53 PM

    iya perkembanganya sekarang jauh lebih santun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


mukadimah

yang empunya blog

isi Polling Duyu

monggo kerso YMan

coretan fresh from the oven

Arsip

anda pengunjung ke

  • 154,244 hits

logo link

traffic counter


%d blogger menyukai ini: